Kamis, 23 Oktober 2014
Ekas Ganam Bloger: BUNGA RAFFLESIA DI BENGKULU
Ekas Ganam Bloger: BUNGA RAFFLESIA DI BENGKULU: SEKILAS TENTANG BUNGA RAFFLESIA DI BENGKULU Bunga Rafflesia adalah bunga terbesar yang ditemukan pertama ...
Ekas Ganam Bloger: PAGAR RUMAH MINIMALIS UNTUK PERUMNAS
Ekas Ganam Bloger: PAGAR RUMAH MINIMALIS UNTUK PERUMNAS: Pagar rumah minimalis dapat melengkapi rumah anda, fungsi pagar rumah sebenarnya untuk keamanan dan melindungi rumah,...
Ekas Ganam Bloger: SEKILAS TENTANG RUU APARATUR SIPIL NEGARA
Ekas Ganam Bloger: SEKILAS TENTANG RUU APARATUR SIPIL NEGARA: SEPUTAR TENTANG RUU ASN Sejak dua tahun lalu, DPR RI bersama dengan pemerintah membahas Rancangan Undang-Undang tentang Aparatur Si...
Ekas Ganam Bloger: RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU
Ekas Ganam Bloger: RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU: RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU Salah satu tempat pengasingan Soekarno berada di Kota Bengkulu. Se...
Ekas Ganam Bloger: BATU AKIK KECUBUNG WULUNG DARI PROVINSI BENGKULU
Ekas Ganam Bloger: BATU AKIK KECUBUNG WULUNG DARI PROVINSI BENGKULU: KECUBUNG WULUNG DARI PROVINSI BENGKULU Batu kecubung wulung asal provinsi Bengkulu ini memiliki kelebihan, memang warna dasar b...
Jumat, 03 Oktober 2014
BATU AKIK KECUBUNG WULUNG DARI PROVINSI BENGKULU
KECUBUNG WULUNG DARI PROVINSI BENGKULU
Batu kecubung wulung asal provinsi Bengkulu ini memiliki kelebihan, memang warna dasar batu tersebut berwarna hitam, namun apabila diberikan sinar cahaya, maka warnanya akan menjadi merah kekuning-kuningan,, diistilahkan tembus cahaya.
batu ini banyak digemari para kolektor batu akik, namun sangat sulit untuk mendapatkan batu kecubung wulung yang sempurna..
Rabu, 17 Juli 2013
RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU
RUMAH PENGASINGAN BUNG KARNO DI BENGKULU
Salah satu tempat pengasingan Soekarno berada di Kota Bengkulu. Selama pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno ditempatkan di sebuah rumah yang awalnya adalah tempat tinggal orang Cina yang bernama Tan Eng Cian. Tan Eng Cian adalah pengusaha yang menyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda. Soekarno menempati rumah tersebut dari tahun 1938 hingga tahun 1942. Rumah ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malborough. Rumah yang berada pada koordinat 0,3o 47l 85,1ll Lintang Selatan dan 102o15l 41,7ll Bujur Timur ini berada di ketinggian 64 m di atas permukaan laut.
Rumah yang dibangun pada awal abad ke-20 ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Bentuk jendela persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas. Luas bangunan rumah ini adalah 162 m2, dengan ukuran 9 x 18 m.
Dulu luas keseluruhan rumah ini mencapai 4 hektar. Selain rumah utama, ada beberapa bangunan lain. Dengan berjalannya waktu, oleh Pemerintah Propinsi Bengkulu lahan yang ada kemudian dibagi-bagi untuk rumah penduduk dan sebagian untuk gedung instansi pemerintah daerah setempat.
Di kamar paling tengah ditempatkan sebuah lemari gandeng berukuran 2 x 1,5 meter, tempat buku koleksi Bung Karno dipajang. Sebuah lemari pakaian menyimpan pakaian serta beberapa benda bekas pemain sandiwara ketika itu, seperti kebaya dan payung tua terbuat dari kertas. Semuanya telah tampak usang dan pudar warnanya.
Sampul buku sebagian besar berlubang atau hancur. Warna buku pun sudah memudar dan rapuh. Tidak ada alat pengatur suhu atau sarana penjaga keawetan buku, seperti layaknya sebuah museum.
Kamar terakhir, pada bagian belakang, tampak kosong, tapi pada setiap bagian dinding terpajang bingkai-bingkai foto berukuran besar; tampak foto-foto Bung Karno beserta Ibu Inggit dan keluarga serta kerabatnya yang lain, termasuk foto Fatmawati yang ketika itu baru beranjak dewasa.
Selain buku koleksi Bung Karno, puluhan seragam kelompok Tonil Monte Carlo juga disimpan di rumah ini. Sungguh disayangkan, di dalam lemari penyimpanan ini juga tidak dilengkapi dengan pengatur suhu dan cahaya untuk mencegah kerusakan akibat pelapukan dan berbagai faktor lain.
Di dalam rumah pengasingan ini tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda tersebut merupakan saksi bisu yang menemani sang Proklamator dalam menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan. Meskipun rumah ini tidak terbilang besar, namun pembagian ruang dan penataan benda-benda berharga tersebut cukup rapi dan teratur.
Di teras, selain meja dan kursi, ada dua lemari kecil, satu untuk menyimpan berbagai jenis suvenir dan satu lagi menjadi tempat menyimpan makanan khas Bengkulu dan berbagai jenis kue lainnya. Bergeser sedikit ke dalam rumah, pengunjung dapat menjumpai sepasang kursi tua. Di sisi kanan terdapat tiga buah kamar dan di sisi kiri terdapat dua kamar tidur. Di dalam kamar tidur terdapat ranjang besi yang merupakan tempat tidur Bung Karno saat ia menghuni rumah ini. Di dalam satu dari tiga kamar lainnya, yang terletak di bagian depan, terpajang duplikat sepeda tua, kendaraan yang biasa dipakai Bung Karno untuk bepergian ketika itu.
Pada bagian belakang rumah terdapat beranda dengan sepasang kursi santai. Pada bagian kanan terdapat bangunan memanjang ke belakang, terdiri atas lima petak, di antaranya merupakan kamar kecil atau kamar mandi, sedangkan yang lainnya berfungsi sebagai gudang dan dapur.
Namun, koleksi peninggalan yang sebenarnya paling berharga di dalam rumah ini adalah buku-buku Bung Karno yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Deretan buku-buku tebal tersebut meliputi pelbagai jenis, seperti karya sastra klasik, ensiklopedia, data kepemimpinan Jong Java, hingga Alkitab Pemuda Katolik. Sayang sekali, buku-buku yang sebagian besar berbahasa Belanda itu sudah dalam keadaan rapuh dan hancur termakan usia. Jika diprosentasikan, sekitar 60 persen dari semua buku yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno ini rusak parah.
Sumber : http://www.bengkulukota.go.id
Langganan:
Postingan (Atom)


